Instagram Twitter Facebook LinkedIn

Turning Point



Dimuat di Koran Tempo Akhir Pekan III September 2017

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) memberikan penghargaan kepada penulis asal Bandung, Pidi Baiq, dalam Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center, Jakarta, awal September lalu. Penulis yang lahir 45 tahun silam ini dinobatkan sebagai Writer of the Year oleh Ikapi lewat karyanya yang terbit selama 2014 hingga 2016, Trilogi Dilan.

Ketiga novel Pidi yang berjudul “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990”, “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991”, dan “Milea: Suara dari Dilan” itu memang laku keras. Hampir di semua toko buku, ketiga buku yang berisi kisah percintaan antara Dilan dan Milea ini selalu menghiasi deretan buku terlaris. Trilogi Dilan pun berhasil mengangkat nama Pidi sebagai salah satu penulis yang diperhitungkan.

Saat ditemui di markas The Panasdalam, Bandung, Pidi mengaku tak tahu-menahu alasan diberikannya penghargaan itu. Bahkan, dia tidak mengetahui bahwa Ikapi rutin memberikan penghargaan tersebut setiap tahun. “Tentu saya sangat berterima kasih kepada Ikapi. Tapi saya tidak perlu bertanya juga kan alasannya? Nanti saya dibilang cowok bawel,” ujar Pidi sembari tertawa.

Saat ini, Pidi tengah menunggu kerampungan film yang diadaptasi dari buku pertama Dilan. Dengan meledaknya trilogi itu, memang banyak rumah produksi yang menawari Pidi memfilmkannya. Pria yang akrab disapa “ayah” ini pun bekerjasama dengan Falcon Pictures untuk mewujudkan ketiga novel itu menjadi film. Namun, baru satu buku yang dibuat film, Pidi menyesal.

Setiap menelurkan sebuah karya, Pidi memang mengutamakan kenyamanan. Hal yang membuat dia puas adalah terciptanya karya yang berkualitas. Pidi tidak ingin dirinya tercerabut dari karyanya sendiri. Begitu pula saat menulis. Menurut dia, menulis adalah sebuah kebutuhan. “Saya butuh menulis, bukan butuh uang. Bahwa kemudian saya dapat uang, itulah dampak dari kualitas karya,” ujar Pidi.

Bagaimana cerita Anda mendapat penghargaan Writer of the Year dari Ikapi?
Dua hari sebelum acara penganugerahan, saya ditelepon oleh Sekretaris Jenderal Ikapi. Saya sebenarnya tidak tahu ada penghargaan itu. Saat ditelepon, saya malah bilang, “Oh, menang ya?” Kata dia, “Bahagia dong!” Saya memang baru bangun tidur waktu itu. Akhirnya saya datang ke sana. Tentu saya berterima kasih kepada yang memberi penghargaan ini. Kalau ada orang yang menghargai kita masa' kita tidak menghargai mereka?

Apa alasan Ikapi memberikan penghargaan itu?
Tidak diberi tahu. Mungkin mereka menganggap saya sudah mengerti. Jadi tidak diberi penjelasan lagi.

Apa karena Trilogi Dilan?
Tidak tahu juga. Saya tidak bertanya. Saya sangat berterima kasih kepada Ikapi. Tapi kan tidak perlu bertanya juga alasannya. Nanti dibilang cowok cerewet, cowok bawel. Ha-ha-ha.

Apa novel Anda yang terlaris?
Tidak tahu. Royalti kan masuknya ke rekening istri. Memang ada laporan royalti, tapi saya tidak pernah membukanya.

Royalti berapa persen dari penjualan?
Berapa ya? Saya lupa. Mungkin sepuluh persen. Sebetulnya saya tidak mempersoalkan itu. Rasanya menggelikan kalau saya mempersoalkan royalti. Saya menulis bukan karena itu. Saya bisa saja, misalnya penerbit ikut campur dalam wilayah saya berkarya, ya sudah tidak usah diterbitkan. Kalau banyak di-edit, saya pasti menolak diterbitkan. Pasti mereka akan berpikir, “Ini demi laku”. Oh tidak, saya justru bukan karena itu. Menulis itu kebutuhan untuk mengisi waktu. Saya itu butuh menulis, bukan butuh uang. Bahwa kemudian saya dapat uang, itulah dampak dari kualitas karya.

Mengenai pajak untuk penulis, bagaimana menurut Anda?
Saya menghargai orang yang mempersoalkan pajak. Tapi saya bukan orang yang seperti itu. Sebenarnya saya tidak mengerti akan hal itu. Saya baru tahu dapat royalti sekian setelah empat buku, setelah penerbit memberi tahu, “Ayah, royaltinya naik ya.” Oh naik ya? Asalnya berapa? Saya begitu.

Apakah Anda diundang oleh Menteri Keuangan dalam pertemuan dengan penulis-penulis buku?
Tidak. Saya kan bukan penulis. He-he-he.

Apakah ada usul untuk Menteri Keuangan terkait pajak penulis?
Tidak ada karena saya tidak mengerti apa-apa. Tapi saya berterima kasih kepada Tere Liye, berterima kasih kepada Dee Lestari. Mungkin dengan mereka begitu banyak penulis yang terwakili. Bahwa saya tidak tertarik mengurus hal itu, mungkin karena saya tidak mengerti apa-apa soal itu. Saya juga saat membaca beritanya tidak mengerti. Saya malah kaget, “Ya Tuhan, saya kan tidak pernah baca kontrak sama sekali.” Tapi saya tetap menghargai mereka karena tidak bisa juga kita belagu, sok iye, sok murni. Mungkin karena tanpa menulis buku saya sudah dapat uang di tempat lain, saya merasa berbeda.

Menjadi penulis itu cita-cita Anda?
Tidak. Saya menulis ya menulis saja. Misalnya, saya di depan komputer, lagi Twitter-an, tiba-tiba pengen menulis, ya sudah saya menulis. Awalnya saya memang tidak ada niat menulis di blog apalagi menulis sebuah buku . Jadi tidak direncanakan. Semuanya terjadi dengan sendirinya.

Trilogi Dilan juga seperti itu?
Setiap orang memiliki waktunya sendiri kapan dia ingin bicara A, bicara B, bicara C. Mungkin pada waktu itu saya ingin bicara masa lalu.

Apakah Dilan adalah masa lalu Anda?
Tidak. Dilan adalah masa lalunya Dilan dan Milea di tahun 1990. Dilan itu siapa pun. Tidak penting sih siapa orangnya. Yang penting adalah kisahnya.

Foto-foto yang beredar apakah benar sosok Milea?
Tanya saja ke dia. Kan dia suka aktif di Twitter. Coba tanya, benar tidak? Saya itu kalau urusan orang lain tidak bisa memberikan pernyataan. Itu hak orang lain yang harus menjawabnya.

Twitter Milea asli?
Tanya ke dia deh.

Apakah Milea kerap ke The Panasdalam?
Sesekali. Orang-orang yang terlibat di novel Dilan sering ke sini kok, seperti Dilan, Burhan, kecuali Akew karena sudah meninggal kan. The Panasdalam akhirnya memang menjadi markasnya geng motor XTC.

Bagaimana proses pembuatan film pertama Dilan?
Syuting sudah selesai. Prosesnya selama 19 hari. Sekarang tinggal di-edit.

Seberapa dalam Anda terlibat dalam pembuatan film ini?
Sangat dalam. Sulit diceritakan karena sangat detail. Bahkan seolah-olah sayalah sutradara yang sebenarnya. Saya tidak sopan sih. Tapi kan saya harus ikut campur kan? Karena saya lebih tahu Dilan daripada sutradara.

Bagaimana menjaga agar cerita di film tetap sesuai dengan novel?
Setiap media punya budayanya sendiri, punya aturan mainnya sendiri, punya gayanya sendiri. Tentu akan berbeda tapi garis besarnya tetap sama. Ada novel yang saat difilmkan betul-betuk sangat jauh. Saya berusaha untuk tidak seperti itu. Harus sangat-sangat dekat.

Tapi banyak yang memprotes penunjukan Iqbal Ramadhan sebagai pemeran Dilan…
Memang terjadi kompromi untuk Iqbal. Ketika saya berkarya, mengikuti apa yang menjadi privacy saya bukan berarti tidak menghargai pendapat orang lain. Karena kalau diikuti juga kan banyak banget. Mending mengacu kepada diri saya sendiri. Saya takut diri saya tercerabut dari karya saya kalau mengikuti orang lain. Toh Iqbal bukan Dilan. Iqbal adalah orang yang memerankan Dilan.  Dia pasti akan melepaskan ke-Iqbal-annya. Tenang saja.

Sempat diberi pilihan oleh rumah produksi?
Rumah produksi menawarkan pilihan. Cuma kan perasaan saya harus bermain di situ. Semuanya bagus. Akhirnya, mana yang mendekati saja yang saya pilih. "Sepertinya Iqbal deh." Kalau Adipati Dolken ketuaan. Kalau Jefri Nichol kecakepan. Kalau cakep, ngapain PDKT? Setor muka juga orang sudah mau. Pertimbangannya seperti itu.

Tapi Anda sempat melontarkan keinginan untuk tidak memilih artis sebagai para pemeran di film ini…
Saya tidak melihat Iqbal sebagai artis. Kalau kata orang itu artis, saya baru tahu. Saya tidak tahu Iqbal itu siapa, serius. Saya tidak punya televisi di rumah. Saya tidak tahu artis-artis itu siapa saja. Ha-ha-ha.

Bagaimana Anda menjaga agar karakter Iqbal di film sesuai dengan karakter Dilan?
Mengarahkan cara berjalan, cara bersikap, cara bicara, itu pasti.

Iqbal sempat dititipkan ke geng motor?
Tidak. Kebetulan Iqbal sering ke The Panasdalam selama istirahat syuting. The Panasdalam kan markasnya XTC. Karena Iqbal sering ke sini, jadi gabung dengan XTC.

Selain itu, ada lagi yang mesti dikompromikan?
Skenario terjadi kompromi juga. Ada pihak Jakarta dan pihak saya. Akhirnya memang terjadi perdebatan sengit. Sangat sengit malah. Kan awalnya saya mau novel saya dibikin film dengan syarat saya terlibat. Di perjalanan mungkin mereka lupa. Mereka masuk ke wilayah saya. Di situ lah terjadi perdebatan. Ada juga permintaan agar pembantu keluarga Dilan memakai kebaya. Saya merasa ini bukan pembantunya Dilan. Atau Lia pakai baju Tweety, pink, aduh, bukan Lia deh. Aku tahu Lia. Akhirnya saya bilang ke art director-nya, kalau Lia pakai baju ini, dia sukanya Iqbal, bukan Dilan.

Siapa yang akhirnya mengalah?
Pihak saya yang galak. Karena saya tidak masalah filmnya dihentikan. Saya pernah minta, “Hentikan syuting ini!”, karena tidak ada keputusan untuk mengikuti apa yang menjadi referensi saya di masa itu. Saya kan mengacu pada keadaan saat itu. Tapi Jakarta begitu. Ternyata memang frekuensinya berbeda. Mereka tidak salah, saya juga tidak salah. Yang salah adalah ketika kami bergabung. Makanya saya kapok. Novel saya tidak akan dijual lagi kepada siapa pun. Tapi, untuk Dilan kan sudah dikontrak tiga buku, ya sudah. Tapi setelah itu tidak mau lagi, sampai kapan pun. Saya mungkin akan bikin film, tapi tidak di sini, tidak di Indonesia. Bikin sendiri saja.

Anda menyesal?
Menyesal. Dan saya tidak mau lagi kerjasama dengan rumah produksi mana pun. Kecuali siapa pun itu memahami saya. Toh saya juga bertanggung jawab. Ketika saya bilang, “Ikuti saya!”, saya membuktikan kalau itu laku. Mereka mau dipenuhi kemauannya untuk dapat banyak uang. Tapi mereka tidak membalas saya yang ingin puas dengan kualitas karya. Saya tidak menuntut uang lho. Ada rumah produksi lain yang menawarkan sampai Rp 3 miliar. Ini jauh sekali, sangat jauh. Tapi saya tidak mau yang itu karena saya takut tidak boleh terlibat. Mendingan saya uangnya kecil tapi terlibat. Tapi di perjalanan ternyata sama saja. Mendingan uangnya besar sekalian.Ha-ha-ha.

Kapan film Dilan tayang?
14 Februari 2018.

Memang sengaja bertepatan dengan Hari Valentine?
Bukan soal itu sebetulnya. Saya setuju dengan produser karena dia punya alasan bahwa nanti ada film Hollywood yang banyak masuk di akhir tahun. Dia ngomong, “Tayang 14 Februari saja karena saingannya tidak berat, tidak terbagi penontonnya.” Oke, itu kan tidak masuk wilayah berkarya. Selama itu tidak prinsip mah saya sok aja.

Apakah setelah ini ada buku keempat tentang Dilan?
Pacar Dilan setelah Milea kan Cika. Kalau Cika mau cerita, saya tulis. Judulnya Cika Mehrunisa Rabu.

Cika mau?
Dia bilang tidak mau. Saya bisa saja menulis sendiri tanpa persetujuan Cika. Tapi saya harus menghormati hak seseorang. Ini kan menyangkut pribadi dia. Tidak bisa saya seenaknya. Itu gibah nantinya karena ngomongin orang. Nanti saya masuk neraka gara-gara buku bagaimana? Ha-ha-ha.

Di kehidupan nyata, apakah Cika dan Dilan menikah?
Ha-ha-ha. Nanti lihat saja. Sebetulnya lebih ramai sama Cika daripada sama Milea. Cika kan masih SMA, Dilan sudah kuliah. Saat itu, Dilan di persimpangan jalan, sudah mulai harus menentukan pilihan ke mana dia mau. Dia bukan lagi remaja yang bisa seenaknya seperti di masa SMA. Ini justru keren. Dan Cika lebih susah mendekatinya.

Cika disebut cemburu dengan Milea…
Dia bilang cemburu, tapi sedikit lah. Saya pernah minta dia berkomentar tentang novel Dilan. Dia bilang, “Apa yang harus membuat saya merasa keberatan dengan adanya Dilan dan Milea? Toh itu masa lalu mereka dan saya tidak ada di sana waktu itu. Setiap orang akan menjadi tokoh dalam hidupnya sendiri.” Rupanya bijaksana juga dia. Kalau harus cemburu, sedikit sudah cukup.

Kapan kisah tentang Cika ditulis di blog Anda?
Inginnya secepatnya.  Walaupun banyak orang yang tidak suka Cika sebetulnya.

Apakah ada pesan yang ingin disampaikan dari novel-novel Anda?
Tidak. Saya tidak memiliki tendensi apa-apa. Ketika menulis saya tidak punya pesan moral yang ingin disampaikan. Saya ingin lepas dari beban-beban seperti itu. Saya menulis apa yang ingin saya tulis saja.

Apa buku favorit Anda?
Saya suka Al-quran. Meskipun itu bukan syair tapi saya melihat itu sangat indah. Sebenarnya saya tidak pernah mengidolakan seseorang. Saya mengidolakan semua yang berkarya. Pram keren, Rendra keren, Goenawan Mohamad keren. Semua keren lah.

Apakah membaca tulisan mereka?
Kalau ada waktu dan bukunya, saya baca. Karena saya sering dikasih buku ya saya baca. Saya tidak pernah berniat beli. Kadan-kadang istri saya yang beli, saya baca.

Apakah anak dibiasakan membaca?
Tidak, biar saja jadi dirinya sendiri. Masa saya memaksa?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Credit: Game of Thrones Indonesia
“Valar morghulis”. Kalimat itu pasti tak asing di telinga para penggemar serial televisi asal Amerika Serikat, Game of Thrones (GoT). Kalimat dalam bahasa dunia GoT atau Valyrian itu dapat diartikan bahwa semua manusia pasti mati. Kalimat itu lah yang menginspirasi nama dari salah satu komunitas penggemar GoT di Indonesia, Valar Morgeulis. Kata “morghulis” sengaja diplesetkan menjadi “morgeulis” karena seluruh anggota komunitas ini perempuan.

Salah satu anggota Valar Morgeulis, Laila Achmad, menolak menyebut diri sebagai komunitas. Menurut wanita berusia 33 tahun ini, Valar Morgeulis lebih tepat disebut sebagai geng penggila GoT. Awalnya, kelompok ini hanya berisikan empat wanita. Saat ini, Valar Morgeulis telah beranggotakan tujuh orang perempuan. “Kami memang satu lingkungan pergaulan. Tapi ada juga yang tadinya tidak kenal sama sekali,” ujarnya.

Laila berkisah, terbentuknya Valar Morgeulis berawal dari dibuatnya grup percakapan di Whatsapp. Tujuannya  untuk mendiskusikan episode-episode terbaru GoT. “Di Indonesia, GoT diputar setiap Senin pagi. Selesai nonton, langsung kami bahas rame-rame,” tutur Laila. Dia menambahkan, “Kalau excited sendiri kan tidak enak, inginnya bahas bareng teman yang suka. Kebetulan, satu geng kami ini satu frekuensi.”

Menurut Laila, nama Valar Morgeulis tidak langsung mereka pakai saat pertama kali terbentuk. Nama tersebut mulai digunakan saat geng ini mengadakan nonton bareng (nobar) untuk pertama kalinya, yakni GoT Season 5 pada 2015 lalu. Saat itu, nama Valar Morgeulis dipakai sebagai mereka. “Yang datang memang cuma sedikit, sekitar 25 orang. Tapi itu membuat kita dikenal banyak orang,” ujar Laila.

Puncaknya, saat Valar Morgeulis mengadakan nobar GoT Season 7 Episode 7 Finale pada 28 Agustus 2017, penonton membludak. Digelar di Institut Francais d’Indonesie (IFI), pendaftar nobar mencapai lebih dari 200 orang. Padahal, kapasitasnya hanya 180 kursi. “Akhirnya banyak yang kami tolak,” ujar Laila. Namun, dia puas dengan acara itu. “Aku percaya diri bahwa nobar kami ini adalah nobar terbesar dibanding komunitas lain dan paling ramai,” katanya.

Rencananya, untuk GoT Season 8 atau musim pamungkas dari serial ini, Valar Morgeulis akan kembali membuat nobar. Laila ingin nobar untuk musim terakhir GoT pada 2019 nanti lebih besar dari tahun ini. “Menurut kami harus koalisi. Jadi semua komunitas bikin satu saja tapi besar,” ujarnya. Bahkan, Laila bermimpi nobar itu bisa digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. “Karena kantong fans GoT banyak dan besar-besar.”

Untuk mengisi jeda dua tahun sebelum musim terakhir GoT diluncurkan, Valar Morgeulis berencana membuat acara selain nobar. Salah satu idenya membuat acara bagi penggemar GoT yang tidak mengikuti serial ini sejak awal. Diskusi itu akan diisi dengan materi yang merangkum serial GoT dari musim pertama hingga terakhir. “Aku juga ingin membuat konser di mana sebuah orkestra membawakan lagu-lagu di GoT,” tutur Laila.

Selain itu, Laila ingin membuat diskusi mengenai prediksi cerita GoT Season 8. Memang, para fans GoT kerap membuat teori sendiri tentang apa yang akan terjadi dalam episode baru. Hal itu menjadi tantangan tersendiri karena GoT memiliki jalan cerita yang susah ditebak. “Yang baik bisa mati, yang jahat bisa menang. Tidak ada tokoh yang benar-benar baik atau benar-benar jahat di GoT,” katanya.

Menurut Laila, hal itu pula lah yang membuat penggemar GoT sedemikian banyak. Kisah dalam GoT begitu kuat dan sesuai dengan kehidupan nyata. “Saking nyatanya, aku sampai bisa menghubungkan, tokoh Daenerys itu Jokowi banget, tokoh ini Fahri Hamzah banget, atau tokoh ini Setya Novanto banget. Aku juga sering ngebatin, ‘Langkah-langkahnya tuh kok sama banget ya sama langkah-langkah yang aku baca di koran’,” ujarnya.

Laila yakin serial GoT Season 8 tidak akan menjadi yang terakhir. Setelah season 8 berakhir, GoT akan kembali muncul dengan serial baru yang mengangkat sisi lain GoT. “Aku dengar rumor akan ada film yang masih terkait,” ujarnya. Karena itu pula, Valar Morgeulis tidak akan bubar walaupun GoT usai. “Kami sudah terlanjur akrab,” katanya. Ia pun tak menutup kemungkinan akan adanya anggota baru dalam Valar Morgeulis. “Kami sangat terbuka.”

Komunitas GoT lainnya, Game of Thrones Indonesia, sepakat bahwa jalan cerita GoT merupakan kekuatan utama serial yang diadaptasi dari novel A Song of Ice and Fire tersebut. Menurut Ismanto Hadi, ketua dari komunitas ini, kisah dalam GoT tak hanya sekedar cerita mengenai kerajaan. “Ternyata lebih dalam dari itu. Ada politiknya, ada moralnya, dan kita tidak bisa suka hanya pada satu karakter,” ujar Hadi.

Hal itu lah yang menurut Hadi membuat GoT disukai oleh banyak orang. Hadi bercerita, saat pertama kali menonton serial ini, dia langsung tertarik dan secara maraton menonton dari musim pertama hingga keenam. “Saya memang baru menonton GoT saat serial ini memasuki season 6. Setelah itu, ada teman yang menawarkan untuk membuat nobar selama satu season. Ya sudah, sekalian dibikin komunitasnya,” katanya.


Hadi mengatakan keanggotaan komunitas ini tidak mengikat. “Yang penting datang saja kalau ada acara,” ujar pria berusia 37 tahun itu. Saat ini, akun media sosial Game of Thrones Indonesia di Instagram telah diikuti lebih dari 500 orang. Namun, anggota yang aktif sekitar sepuluh orang. Kesepuluh anggota itu lah yang kerap menjadi panitia ketika komunitas ini menggelar nobar. “Setiap bulan kami selalu bikin nobar saat episode baru GoT keluar,” ujar Hadi.***

Artikel ini dimuat di Koran Tempo Akhir Pekan 16-17 September 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
eatandtreats.blogspot.co.id
Antrian mengular bermeter-meter panjangnya. Puluhan orang berjubel di depan gerai bernuansa kuning berukuran 4x6 meter yang terletak di Mal Neo Soho, Jakarta Barat, ini. Mereka tak sabar untuk segera tiba di depan kasir. Apalagi kalau bukan memesan satu-satunya menu yang diburu di gerai ini dan segera menikmati segarnya minuman mangga yang menjadi andalan gerai itu.

Big Mango, itulah menu satu-satunya dari gerai King Mango Thai yang tengah menjadi incaran masyarakat ibu kota. Usaha waralaba asal Thailand tersebut hadir pertama kali di Indonesia pada 10 Juni 2017 lalu. Big Mango yang baru dijual di gerai ini dihargai Rp 50 ribu per gelas. Cukup mahal memang. Tapi, banyak orang rela mengantri berjam-jam lamanya demi mendapatkan minuman ini.

Menurut salah satu karyawan yang bertanggung jawab di gerai tersebut, Bambang Eko Putro, konsep yang ditawarkan King Mango Thai di Indonesia sama persis dengan gerai induknya di Thailand. Mereka mengusung konsep minuman sehat berupa jus mangga yang bahan dasarnya dikupas langsung di gerai. “Mangga kami tidak dikupas di tempat lain. Kami memang mengutamakan kesegaran dari buahnya,” ujar Bambang. Sayangnya, dia tak mau menyebutkan dari mana mangga itu dipasok.

Untuk menjamin kebersihan dari produk King Mango Thai, para petugas yang meracik minuman di gerai mereka diwajibkan mengenakan masker, sarung tangan, serta topi. “Itu SOP (Standard Operational Procedure) kami,” ujar Bambang. Menurut pantauan Tempo di gerai mereka, setiap beberapa menit sekali seorang petugas juga mengepel lantai gerai tersebut.

Sedikitnya, ada sembilan petugas yang melayani para pembeli di gerai King Mango Thai ini. Ada yang bertugas di kasir, ada yang sibuk menyerut es, ada yang bertanggung jawab membuat jus, tapi sebagian besar bertugas memasukkan berbagai komponen yang telah disiapkan ke dalam gelas yang berukuran cukup besar itu.

Dalam segelas Big Mango, bagian paling bawah yang mengisi sekitar tiga perempat gelas merupakan jus mangga. Jus ini terasa manis, kental, dan segar. Komponen di atasnya, bukan berasal dari mangga, adalah whipped cream yang rasanya pun manis. Setelah itu, ada es serut yang lagi-lagi terbuat dari mangga. Tekstur dari es serut berwarna jingga ini sangat lembut. Adapun bagian teratas dari minuman ini adalah potongan-potongan mangga yang dingin dan empuk saat dikunyah. Potongan-potongan mangga yang pas dalam sekali lahap itu menambah kaya tekstur dari minuman ini.

King Mango Thai juga melengkapi menu andalan mereka tersebut dengan tampilan yang unik. Setelah gelas Big Mango terisi penuh, petugas meletakkan gelas itu ke dalam wadah dari karton berwarna hijau yang bertuliskan logo King Mango Thai. Tak lupa, ditancapkan bendera mini berwarna hijau yang juga bertuliskan logo King Mango Thai serta diselipkan sedotan dan garpu di dalam wadah tersebut.

Tampilan yang menarik itu memang menjadi ciri khas King Mango Thai. Bambang menjelaskan pemilik waralaba King Mango Thai di Indonesia yang merupakan atasannya tidak hanya ingin menyajikan minuman yang sehat. Pemilik waralaba ini, kata dia, juga ingin produk yang dijual memiliki tampilan yang menarik. Bisnis kuliner, terutama minuman, sangat potensial dan digemari. Namun, agar produk mereka tidak sama dengan minuman-minuman lainnya yang begitu beragam, mereka menyuguhkan tampilan yang unik agar lebih menarik perhatian.

Dan terbukti, minuman sehat yang bertampang unik ini cukup sukses membuat heboh masyarakat Jakarta. “Kehadiran kami membawa efek yang sangat luar biasa. Dalam sehari, kami menghabiskan sekitar 750 kilogram hingga satu ton mangga,” tutur Bambang. Antrian pembeli, menurut dia, kerap kali mencapai eskalator di lantai LG Mal Neo Soho atau berjarak sekitar 20 meter dari gerai King Mango Thai. Lima meja dengan masing-masing tiga kursi yang disiapkan untuk pembeli di gerai itu pun selalu terisi penuh.

Dalam waktu dekat, King Mango Thai Indonesia akan meluncurkan menu baru. Sayangnya, Bambang tak ingin membocorkan sedikit pun perihal menu baru itu. “Yang pasti kami akan siap bikin heboh. Ditunggu saja,” katanya. Namun, Bambang tak sungkan mengungkapkan bahwa gerai King Mango Thai akan bertambah di sepuluh titik dalam waktu dekat ini. “Oktober dan November akan dibuka di Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Depok, dan Tangerang. Untuk luar DKI ada Surabaya, Medan, dan Bandung,” ujar Bambang.

Dalam merambah usaha minuman berbahan dasar mangga ini, ternyata King Mango Thai tak sendirian. Terdapat beberapa usaha kuliner yang memiliki menu serupa dengan Big Mango asal Thailand tersebut. Salah satunya adalah Mango Mango. Selang dua bulan dari kemunculan King Mango Thai, Mango Mango dibuka untuk pertama kalinya di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, tepatnya pada 26 Agustus 2017. Gerainya pun tak kalah ramai. Pembeli perlu mengantri sekitar 30 menit hingga satu jam untuk mendapatkan minuman ini.

Berbeda dengan King Mango Thai, Mango Mango telah memiliki tiga menu andalan, yakni Mango Sticky Rice, Mango Paradise, dan Mango Juice. Menu terakhir bagaikan pinang dibelah dua dengan minuman Big Mango milik King Mango Thai. Harganya pun sama. Segelas Mango Juice dibandrol dengan harga Rp 50 ribu.

Namun, Mango Juice tidak berisi es serut mangga yang menjadi salah satu komponen Big Mango-nya King Mango Thai. Untuk komponen lainnya, sama. Namun, jus dalam Mango Juice terasa lebih manis dan teksturnya tidak sekental jus yang ada di Big Mango. Tampilannya pun sepintas begitu mirip. Bedanya, logo Mango Mango tercetak di gelas, bukan di wadah karton seperti milik King Mango Thai.***

Artikel ini terbit di Koran Tempo Akhir Pekan 16-17 September 2017
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Credit: www.today.com
Profesi sebagai seniman perias tengah digandrungi anak-anak muda. Tak hanya wanita, pria pun berlomba-lomba menggeluti profesi yang lebih beken disebut make-up artist alias MUA ini. Padahal, usaha dan modal yang mesti dikeluarkan oleh mereka cukup besar sebelum menjadi seorang perias.

1. Produk Kosmetik
Perias dituntut untuk memiliki berbagai macam produk kosmetik, mulai dari alas bedak, blush-on, lipstick, eyeshadow, eyeliner, maskara, dan sebagainya. Kerap kali, calon pelanggan juga mengukur kualitas perias dari merk produk kosmetik yang mereka pakai. Biasanya, kualitas produk kosmetik dibagi menjadi tiga, yakni:
  • Produk kualitas drugstore, modal awal Rp 2-3 juta
  • Produk kualitas medium, modal awal Rp 5-7 juta
  • Produk kualitas high-end, modal awal lebih dari Rp 10 juta

2. Alat Rias
Terdapat barang-barang wajib yang mesti dimiliki para perias. Apa saja?
  • Kuas make-up segala ukuran untuk memulaskan riasan ke alis, kelopak mata, pipi, bibir, dan sebagainya
  • Beauty blender juga dibutuhkan untuk membaurkan alas bedak di wajah
  • Tas make-up untuk membawa peralatan rias selengkap mungkin

3. Keterampilan
Banyak tempat yang bisa dipilih untuk mengenyam pendidikan merias. Setidaknya, calon perias bisa mencari ilmu di sini:
  • Beauty School, contohnya Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Mooryati Soedibyo (LPPMS), Puspita Martha International Beauty School, Makeover Make-up Academy, dan sebagainya. Biaya: Lebih dari Rp 30 juta
  • Jurusan tata rias di kampus-kampus negeri, seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Negeri Surabaya. Biaya: Rp 3-6 juta per semester
  • Kursus atau kelas privat dengan perias-perias profesional. Biaya: Lebih dari Rp 3 juta, tergantung jam terbang perias profesional yang mengajar

4. Teknik Rias
Teknik-teknik merias begitu beragam. Ada teknik merias yang menonjolkan area wajah yang posisinya memantulkan cahaya atau strobing. Ada pula teknik kontur wajah yang menggunakan blush atau draping dan teknik yang menggunakan blush on di bawah mata atau feverish. Selain itu, teknik-teknik dari luar negeri juga banyak, seperti ombre lips dari Amerika atau jamsu dari Korea.

5. Tarif Perias
Tarif yang dibandrol oleh para perias bermacam-macam. Biasanya, harga yang dipatok disesuaikan dengan kualitas produk kosmetik yang dimiliki perias.
  • Produk kualitas drugstore, tarif Rp 150-250 ribu
  • Produk kualitas medium, tarif Rp 300-500 ribu
  • Produk kualitas high-end, tarif lebih dari 700 ribu

6. Penghasilan

Rata-rata, seorang perias menerima order merias dari 20-25 pelanggan setiap bulannya. Dengan jumlah itu, perias yang memasang tarif Rp 200 ribu saja bisa menghasilkan omset sekitar Rp 4-5 juta per bulannya. Apalagi jika seorang perias memasang tarif Rp 500 ribu. Dia bisa mendapatkan penghasilan kotor Rp 10-12,5 juta per bulan. Angka ini cukup wow mengingat produk kosmetik tidak selalu habis setiap bulannya.***

Artikel ini terbit di Koran Tempo Akhir Pekan 9-10 September 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Credit: www.qcmakeupacademy.com
Keberadaan seniman perias semakin tak bisa dihitung dengan jari. Profesi yang lebih akrab disebut make up artist atau MUA ini memang sedang menjadi idaman bagi anak-anak muda, tidak terkecuali laki-laki. Ketika kita mengetikkan hashtag #muajakarta di kotak pencarian media sosial Instagram saja, sebanyak 2,19 juta foto telah diunggah oleh akun-akun yang mayoritas adalah milik ribuan seniman perias. Belum di kota-kota besar lainnya. Foto di Instagram dengan hashtag #muasurabaya berjumlah 1,06 juta dan #muabandung mencapai 794 ribu.

Jaman sekarang, menjadi perias memang tidak sulit. Di era teknologi saat ini, semua ilmu bisa didapatkan di internet, termasuk merias. Kemudahan inilah yang dimanfaatkan oleh anak-anak muda untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang merias secara otodidak. Lewat Youtube, para perias bisa mencari tutorial merias sebanyak mungkin sesuai keinginan mereka. Tak seperti dulu, anak-anak muda saat ini tidak perlu mengemban pendidikan di sekolah tata rias yang berbiaya selangit untuk bisa menyandang titel perias.

Listya Nursyfa salah satunya. Wanita berusia 24 tahun ini tidak pernah mengenyam pendidikan di bidang tata rias sebelum pada pertengahan 2016 memutuskan untuk menekuni profesi perias. Bagi perempuan kelahiran Bekasi ini, merias adalah hobinya sejak masih SMA. Saat lulus, Listya ingin melanjutkan kuliah di jurusan tata rias Universitas Negeri Jakarta. Namun apa daya, sang ibu tidak mengizinkannya. “Mamaku kebetulan kepala sekolah. Menurut dia, kalau mau terjamin ya harus kerja kantoran. Karena itu, aku kuliah di jurusan administrasi perkantoran Universitas Indonesia,” katanya.

Tak adanya restu dari orangtua tidak menyurutkan wanita bertubuh langsing ini untuk menimba ilmu merias. Secara otodidak, dia mengasah kemampuannya merias. Berbagai tutorial merias di Youtube ia lahap. Gatal dengan hasil sebenarnya, dia mengaplikasikan teknik-teknik rias yang didapat dari Youtube ke wajah kakak perempuannya yang rela menjadi kelinci percobaan. “Memang harus belajar terus. Justru kalau otodidak itu lebih belajar. Dari pengalaman sendiri, kita bisa mengatasi persoalan yang terjadi. Misalnya riasannya pecah, kita tahu apa yang harus dilakuin,” ujar Listya.

Saat ini, order yang datang kepada Listya tak pernah berhenti. Untuk tiga bulan ke depan, akhir pekan Listya sudah terisi dengan jadwal merias. Setiap bulannya, minimal 30 pelanggan memakai jasanya, baik untuk acara wisuda, ulang tahun, pertunangan, pernikahan, dan sebagainya. Tarif paling rendah yang dipatoknya Rp 400 ribu per orang. “Padahal aku sempat kerja jadi admin di salah satu perusahaan swasta selama tiga bulan sembari merias. Tapi lama-lama capek. Akhirnya aku harus pilih salah satu. Aku pilih merias aja. Lagian, habis merias, kita langsung dibayar,” kata Listya sembari tertawa.

Berbeda dengan Listya yang menjadikan perias sebagai profesi utamanya, Astrid Nur Anisah menjadikan pekerjaan ini sebagai sampingan. Perempuan 25 tahun ini memang menekuni profesi lain, yakni sebagai dokter gigi. Namun, karena merias adalah hobinya, profesi sebagai dokter gigi ia jalani berbarengan dengan pekerjaannya sebagai perias. “Waktu masih sekolah S1 kedokteran gigi dan kemudian koas, aku nggak meninggalkan salah satunya. Keduanya aku jalani beriringan. Alhamdulillah aku lulus tepat waktu tapi merias pun tetap jalan,” katanya.

Astrid mempelajari ilmu merias juga secara otodidak. Panutannya adalah sang ibu yang pekerja kantoran yang mesti merias diri setiap pagi. Seringkali, wanita berwajah chubby ini menonton berbagai tutorial merias di Youtube untuk menambah pengetahuan tata riasnya. Namun, ia merasa tak cukup menggali ilmu lewat itu saja. Belakangan, wanita yang saat ini berdomisili di Surabaya ini kerap mengikuti kursus merias. “Aku ngambil beberapa kelas privat sama perias profesional yang gayanya aku suka banget, seperti Marlene Hariman, Irwan Riady, Adi Adrian, dan Bubah Alfian,” ujar Astrid.

Saat ini, Astrid memasang tarif rias termurah Rp 700 ribu untuk pelanggan yang memakai jasanya. Setiap akhir pekan, Astrid selalu merias pelanggan-pelanggan yang datang dari segmen menengah ke atas. Mayoritas, pelanggan sang dokter gigi ini berusia sekitar 18-30 tahun. Biasanya, para pelanggan wanita berambut panjang ini menggunakan jasanya untuk menghadiri acara wisuda, pesta, pertunangan, dan pernikahan. “Untuk hari-hari kerja, aku pribadi memang membatasi untuk menerima order merias karena ada jadwal praktek yang nggak bisa diganggu,” tuturnya.

Salah satu perias muda asal Jakarta, Bimbi Selmachary, bercerita bahwa ia tetap harus belajar rias sendiri walaupun wanita berusia 24 tahun ini adalah lulusan jurusan tata rias Universitas Negeri Jakarta. Menurut dia, ilmu yang didapatkan dari almamaternya itu hanyalah aturan baku atau pakem dalam merias. “Rias sekarang kan kebanyakan modern. Itu modifikasi dan kita mesti belajar lagi di luar. Kita kembangin sendiri sesuai tren saat ini. Untuk yang ini, aku belajar dari Youtube sama ikut seminar-seminar perias profesional,” kata Bimbi yang mewarisi bakat merias dari sang ibu.

Hal yang tak kalah penting yang mesti dimiliki perias adalah kemampuan untuk memasarkan hasil riasannya agar dilirik calon pelanggan. Menurut Dini Nurdiani, perias asal Bogor, tidak sulit mempromosikan hasil riasan. Perias cukup memanfaatkan media sosial, terutama Instagram, pelanggan pun datang dengan mudahnya. “Sekarang jadi perias tuh tinggal foto jepret sekali, pake hashtag #mua atau #muajakarta atau apa, udah. Jadilah dia perias. Orang kan nyari perias memang kebanyakan lewat hashtag,” ujar dara kelahiran 25 tahun silam ini.

Dini berkisah, saat mengawali karirnya sebagai perias pada pertengahan 2016 lalu, dia memiliki dua akun di Instagram. Satu akun pribadi, satu akun promosi. Akun promosi itu ia gunakan untuk mengunggah foto-foto hasil riasannya secara berulang. Cara itu Dini lakukan agar portofolionya itu tetap berada di urutan teratas pencarian di Instagram dan banyak dilihat orang. “Akun promosi itu cuma aku pakai 2-3 bulan aja. Karena selanjutnya udah mulai banyak, pakai akun pribadi udah cukup. Murah banget sih sekarang promosi, nggak perlu bayar apa-apa,” kata wanita bertubuh mungil ini.

Seperti Dini, perias asal Tangerang Selatan, Pipit Rosianty, juga mengandalkan Instagram untuk memasarkan jasa riasnya yang dibandrol paling murah Rp 500 ribu per kepala ini. Namun, ia lebih menekankan pentingnya foto hasil riasan. Menurut wanita berusia 24 tahun ini, foto portofolio yang baik adalah foto-foto yang menunjukkan hasil riasan sesuai aslinya. “Tanpa di-edit. Soalnya klien pernah aku tanya, ‘Kenapa tertarik make-up sama aku?’ Dia jawab, ‘Soalnya aku lihat foto kamu pakai HP, nggak pake kamera. Kalau pakai kamera hasilnya bagus-bagus. Aku takutnya menipu’,” cerita Pipit.

Selain kerap mendapatkan pelanggan yang unik, Pipit mengaku sering mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan selama menjadi perias dalam satu tahun terakhir ini. Dulu, tas rias yang dimiliki Pipit tidak memiliki lampu seperti yang dipunyainya saat ini. “Jadi, kalau merias orang subuh-subuh, mesti pakai senter HP,” ujar wanita berjilbab ini sembari tertawa. “Pas pertama kali dapat pelanggan juga dapat kulit yang susah, banyak bekas jerawatnya. Itu benar-benar tantangan. Orangnya sih senang-senang aja, tapi aku kurang puas,” kata Pipit.

Pengalaman berkesan pernah pula dialami Bimbi. Dia pernah diminta untuk merias mayat. Menurut Bimbi, merias mayat berbeda dengan merias manusia yang masih hidup. “Kalau merias manusia hidup kan kenyal. Kalau mayat kaku,” katanya. Di awal, Bimbi mengaku takut. Namun, saat rampung merias, ia merasa puas dengan pekerjaannya. “Karena habis didandanin tuh senyum,” ujarnya. “Dan merias mayat itu bayarannya lebih mahal, bisa Rp 3-4 juta sekali rias. Kenapa? Karena alat riasnya sekali pakai. Nggak mungkin dong habis kita pakein ke mayat kita pakein ke orang,” ujar Bimbi.

Salah satu perias profesional, Aldo Akira, membagikan resep untuk perias yang baru terjun di dunia tata rias. Yang utama, menurut pria berusia 36 tahun ini, adalah tekad dan kemauan yang kuat untuk menjadi profesional. “Mesti dari hati, bukan hanya karena lagi tren dan hanya untuk gaya-gayaan,” ujarnya. Seorang perias pun, kata Aldo, tidak boleh berhenti untuk mempelajari tren merias yang baru. “Aku aja masih belajar. Yang penting, apa yang dipelajari mesti diperbaharui terus. Harus mencoba sesuatu yang baru. Kalau mau, bikin tren sendiri,” tutur pria yang berdomisili di Tangerang Selatan ini.

Menurut Aldo, ilmu merias bisa didapatkan di mana saja. Perias muda bisa menempuh pendidikan formal di bidang tata rias. Namun, perias juga bisa mempelajari ilmu ini secara informal. Jika terkendala dengan biaya sekolah atau kursus yang lumayan mahal, Aldo menyarankan agar perias-perias baru belajar dari perias-perias senior yang sudah terlebih dahulu terjun di bidang rias-merias. “Kita bisa ikut senior dulu. Jangan lupa juga untuk bikin image, kamu fokusnya ke mana. Mau semua-semuanya diambil atau khusus pernikahan aja,” kata pria beranak satu ini.

Hal penting lainnya yang harus dilakukan oleh seorang perias, menurut Aldo, adalah dengan senang hati mendengarkan permintaan pelanggan. Pria berbadan tegap ini mengatakan perias dilarang memaksakan kehendaknya kepada pelanggan untuk dirias dengan gaya atau tren tertentu. “Dengerin permintaan klien itu penting, jangan mendominasi. Tanya aja dulu bajunya apa, acaranya apa, pagi atau malem,” katanya. Untuk menambah servis, perias pun bisa menyiapkan alat pijat yang bisa digunakan pelanggan saat dirias. “Jadi dia betah dirias sama aku,” ujar Aldo.

Merk produk kosmetik yang digunakan, kata Aldo, nomor dua. Memang, semakin mahal produk kosmetik semakin bagus pula kualitasnya dan berpengaruh ke hasil riasan. Namun, Aldo menekankan agar perias-perias baru percaya diri dengan produk kosmetik yang dimilikinya. “Percaya atau nggak, dulu aku cuma pakai satu bedak, tiga lipstick, satu blush-on, satu maskara, dan satu eyeshadow. Di awal, pakailah yang kamu punya dulu. Dan jangan pernah beli yang palsu sih, Walaupun murah, kamu nanti bisa di-black list,” kata pria yang mengenyam pendidikan Sastra Jepang ini.

Kesalahan terbesar perias pemula, menurut Aldo, adalah sifat yang mudah puas. Harusnya, perias muda tidak boleh terlalu lama berada di zona nyaman. “Misalnya, aku cuma suka bikin alisnya begini. Jangan, ikuti aja yang sekarang lagi tren,” katanya. Tapi, Aldo kembali mengingatkan agar perias tidak memaksakan kehendaknya merias seseorang dengan gaya masa kini. “Lebih fleksibel aja. Dan satu hal yang perlu diingat, yang wajib, tepat waktu. Yang orang suka dari aku tuh aku selalu datang on time. Kita juga harus bisa dipercaya. Jangan sampai kita udah janji, tiba-tiba kita batalin,” kata Aldo.

Saran lain diberikan oleh perias senior, Carolina Septerita. Perias dari Wardah ini mengatakan bahwa pendidikan tata rias mesti ditempuh oleh para perias muda walaupun mereka telah mendapatkan begitu banyak ilmu dari internet. Di awal, menurut Carolina, perias pemula sah-sah saja menyerap berbagai pengetahuan tentang rias-merias melalui Youtube. “Tapi tetap harus ikut-ikut kursus untuk lebih memperbanyak tekniknya,” ujar perias yang kerap mendandani wajah perancang busana Anniesa Hasibuan tersebut.

Carolina setuju bahwa saat ini profesi sebagai perias tengah digandrungi anak-anak muda. Karena itu, menurut dia, perias-perias berbakat tersebut mesti memiliki ciri khas. “Itu harus karena ciri khas adalah yang membedakan kita dengan orang lain sehingga kita selalu diingat,” ujarnya. Yang tak kalah penting yang harus dilakukan oleh para perias anyar adalah memasarkan jasanya secara luwes. “Media sosial bisa dijadikan jembatan ke dunia luar. Dunia luar bisa langsung melihat hasil karya kita. Yang terpenting selalu inovatif,” tuturnya.


Menurut Carolina, peran media sosial begitu besar untuk mempromosikan diri. Dengan media sosial, seorang perias muda bisa berhubungan dengan calon pelanggan. Bahkan, jika kreatif, perusahaan-perusaahan kosmetik akan melirik para perias itu dan menjadikan mereka brand ambassador. “Punya alat-alat rias yang high-end juga perlu untuk menunjang pemasaran diri kita sebagai perias,” katanya. Namun, perias baru tidak perlu memaksakan diri untuk memiliki produk kosmetik kelas atas. “Masih bisa kita akali dengan produk-produk local. Yang penting tepat pengunaannya,” kata Carolina.***

Artikel ini terbit di Koran Tempo Akhir Pekan 9-10 September 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


"Wartawan kok nggak punya blog?"

Mungkin itu pertanyaan yang sering sekali singgah yang akhirnya menggerakkan saya untuk membuat blog ini. Aneh memang ketika menulis adalah pekerjaan saya sehari-hari tapi saya tidak punya blog untuk menyalurkan hobi menulis.

Pertanyaannya, memangnya menulis adalah hobi?

Jujur, tidak pernah terlintas di pikiran saya sekali pun untuk jadi wartawan. Menulis bukanlah hobi. Ketika memutuskan menempuh kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, yang mendorong saya adalah keinginan untuk bekerja di stasiun televisi.

Lalu, kenapa akhirnya jadi wartawan kalau tidak hobi menulis?

Mungkin karena terpaksa. Lho? Memangnya kenapa? Begini...

Setelah wisuda, saya langsung diterima di salah satu perusahaan startup di Jakarta. Kala itu, saya menjabat sebagai Digital Content Marketing. Kelihatannya wah kan? Tapi sebenarnya biasa saja. Saya malah tidak enjoy kerja di sana. Bukan karena rekan-rekan kerjanya ya. Lebih karena saya yang mungkin memang tidak suka bekerja hanya di belakang meja dan terkungkung di ruangan kantor. Jenuh? Iya! Karena itu, saat ada lowongan pekerjaan menjadi calon reporter di Tempo, tanpa pikir panjang saya langsung mengeklik tombol apply yang ada di laman Jobstreet.

Sepertinya Tempo mendengar jeritan hati saya saat itu. He-he-he... Satu demi satu tahapan tes berhasil saya lewati. Di awal Agustus, 2015 saat itu, saya mendapat telepon dari bagian SDM Tempo yang memberi tahu bahwa saya lolos menjadi calon reporter Tempo.

Lalu pertanyaan berikutnya, apakah saya senang?

Bisa iya, bisa tidak. Iya, karena saya akhirnya terlepas dari beban untuk bangun pagi setiap hari dan mendekam di dalam sebuah kotak selama delapan jam lamanya. Tidak, karena saya sebenarnya tidak memiliki keinginan sama sekali untuk menjadi wartawan.

Singkat cerita, akhirnya saya benar-benar jadi wartawan Tempo, media yang katanya tersohor yang di dalamnya ada banyak sekali wartawan canggih. Saat itu, saya direkrut bersama 19 rekan saya lainnya yang saat ini sudah menjadi seperti keluarga buat saya.

Sekarang, saya sudah dua tahun mengemban profesi ini. Awalnya, saya mungkin kurang sreg. Tapi, semakin ke sini, saya semakin yakin bahwa wartawan adalah pekerjaan paling menyenangkan di dunia. "Tidak ada pekerjaan yang semenyenangkan ini," sering saya berpikir begitu.

Menjadi wartawan memang pengalaman yang berharga. Profesi ini membuat saya bisa bertemu orang-orang yang selama ini saya tidak pernah bermimpi bertemu mereka. Sebut saja Pak Jokowi, Pak JK, Pak Ahok, Bu Sri Mulyani, Bu Susi Pudjiastuti, dan lainnya.

Menjadi wartawan juga membuat saya belajar begitu banyak hal. Pertama, tentu belajar menulis. Kedua, belajar berjuang. Memang, bertemu dengan pejabat sangat mudah dengan label wartawan. Tapi, jangan harap semua pertanyaan akan dijawab oleh sang narasumber.

Yang paling utama, menjadi wartawan membuat saya tahu banyak informasi. Selama dua tahun ini, saya sudah bertugas di empat desk, metropolitan, nasional, ekonomi, dan terakhir gaya hidup. Lewat keempat desk itu, otak saya dijejali dengan berbagai pengetahuan baru.

Itulah cerita singkat saya. Lewat blog ini, saya akan membagikan berbagai tulisan saya sejak menjadi wartawan Tempo. Kebanyakan akan berupa laporan-laporan hasil liputan yang belum diedit oleh bos-bos saya di kantor. Jadi, selamat membaca teman-teman.***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

About me

My name's Angelina Anjar Sawitri.
You can call me Arme.
I'm journalist in one of the media company in Jakarta.
Sometimes I create reports for my boss.
Sometimes I just eat or hangout with my friends.

Follow Us

  • Instagram
  • Twitter
  • Facebook

Categories

  • Gaya Hidup
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Profil
  • Saya

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  April (1)
      • Pidi Baiq: Menggelikan Jika Saya Mempersoalkan Roy...
  • ►  2017 (5)
    • ►  September (5)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates